KAJIAN : VAKSIN ASTRAZENECA
I. Pengertian dan Tujuan Vaksinasi Vaksinasi adalah pemberian vaksin (antigen
dari virus/bakteri) yang dapat merangsang imunitas (antibodi) dari sistem imun
di dalam tubuh, dalam kata lain seperti memberi infeksi ringan pada tubuh.
Tujuan dilakukannya vaksinasi pada kasus virus Covid-19 yakni untuk memberi
perlindungan tubuh agar tidak jatuh sakit akibat covid-19 dengan cara
menimbulkan atau menstimulasi kekbalan spesifik dalam tubuh dengan pemberian
vaksin. Di indonesia, rencana Vaksinasi. II. Rencana Vaksinasi di Indonesia
Presiden RI, Joko Widodo telah memberikan instruksi terkait pelaksanaan
program vaksinasi di Indonesia, adapun instruksi Presiden untuk Program
Vaksinasi Covid-19 antara lain:
1. Vaksin Covid-19 diberikan secara gratis dan masyarakat tidak dikenakan
biaya sama sekali.
2. Seluruh jajaran kabinet, kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah agar
memprioritaskan program vaksinasi pada tahun anggaran 2021.
3. Memprioritaskan dan merelokasi anggaran lain terkait ketersediaan dan
vaksinasi secara gratis.
4. Presiden akan menjadi yang pertama mendapat vaksin Covid-19. Tujuannya
untuk memberikan kepercayaan dan keyakinan kepada masyarakat bahwa vaksin yang
digunakan aman.
5. Meminta masyarakat untuk terus menjalankan disiplin 3M yaitu 5 memakai
masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan.
Tahapan Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19 Vaksinasi Covid-19 dilaksanakan
dalam 4 tahapan dengan mempertimbangkan ketersediaan, waktu kedatangan dan
tahapan pelaksanaan vaksinasi COVID 19 dilaksanakan sebagai berikut:
1. Tahap 1 dengan waktu pelaksanaan Januari-April 2021. Sasaran vaksinasi
COVID-19 tahap 1 adalah tenaga kesehatan, asisten tenaga kesehatan, tenaga
penunjang serta mahasiswa yang sedang menjalani pendidikan profesi kedokteran
yang bekerja pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
2. Tahap 2 dengan waktu pelaksanaan Januari-April 2021. Sasaran vaksinasi
COVID-19 tahap 2 yaitu petugas pelayanan publik yaitu Tentara Nasional
Indonesia/ Kepolisian Negara Republik Indonesia, aparat hukum, dan petugas
pelayanan publik lainnya yang meliputi petugas di bandara/ pelabuhan/ stasiun/
terminal, perbankan, perusahaan listrik negara, dan perusahaan daerah air
minum, serta petugas lain yang terlibat secara langsung memberikan
pelayanan kepada masyarakat serta kelompok usia lanjut (≥ 60 tahun).
3. Tahap 3 dengan waktu pelaksanaan April 2021-Maret 2022. Sasaran vaksinasi
COVID-19 tahap 3 adalah masyarakat rentan dari aspek geospasial, sosial, dan
ekonomi.
4. Tahap 4 dengan waktu pelaksanaan April 2021-Maret 2022. Sasaran vaksinasi
tahap 4 adalah masyarakat dan pelaku perekonomian lainnya dengan pendekatan
kluster sesuai dengan ketersediaan vaksin. III.
Jenis Vaksin yang digunakan di Indonesia Berdasarkan pada Keputusan Menteri
Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/1275/ 2020 tentang Penetapan Jenis Vaksin
Untuk Pelaksanaan Vaksinasi COVID-19, jenis vaksin COVID-19 yang dapat
digunakan di Indonesia adalah:
1) Sinovac Sinovac adalah produsen vaksin COVID-19 dengan nama vaksin
CoronaVac asal Cina. Vaksin ini merupakan jenis vaksin inactivated, yaitu
berasal dari virus yang telah dimatikan. Diberikan dalam dua dosis atau dua
kali suntikan dalam jangka waktu 14 hari.
2) Astrazeneca Vaksin ini merupakan hasil kerja sama antara Universitas Oxford
dan Astrazeneca. Vaksin Astrazeneca adalah jenis vaksin vector adenoviral
(rekombinan) yang mengandung virus flu biasa yang telah dimodifikasi sehingga
tidak dapat bereplikasi atau berkembang didalam tubuh manusia tetapi dapat
menimbulkan respon kekebalan terhadap Covid-19
3) Sinopharm Vaksin ini dibuat oleh Sinopharm (China National Pharmaceutical
Group Corporation), yang dalam pembuatannya memanfaatkan virus yang sudah
dimatikan atau masuk jenis inactivated vaccine.
4) Moderna Vaksin ini dikembangkan oleh Moderna and Vaccine Research Center at
the National Institute of Allergy and Infectious Disease (NIAID) di Amerika.
Vaksin COVID-19 Moderna yang merupakan jenis vaksin biosintetik atau
menggunakan komponen materi genetik yang membuat sistem kekebalan tubuh
memproduksi spike protein.
5) Pfizer Inc and BionTech Diproduksi oleh Pfizer (perusahaan farmasi asal
AS)bekerja sama dengan perusahaan bioteknologi Jerman, BioNTech. Vaksin Pfizer
adalah vaksin mRNA (messenger RNA). Jenis vaksin ini akan memicu sistem sistem
kekebalan tubuh membentuk spike protein, yang nantinya akan membantu tubuh
membentuk antibodi yang dapat melawan virus Corona.
6) Novavax Novavax Inc. dari Amerika Serikat. Novavax adalah jenis vaksin
biosintetik, dengan menggunakan spike protein yang dibuat khusus untuk meniru
protein spike alami dalam virus Corona. Vaksin ini bekerja dengan memasukkan
protein yang memicu respons antibodi, yang menghalangi kemampuan virus Corona
di masa depan menginfeksi.
7) Vaksin buatan Biofarma Vaksin ini merupakan hasil kerjasama PT. Bio Farma
dengan Sinovac, di mana Bio Farma mendatangkan bulk bahan baku vaksin yang
siap untuk di-filling dan dikemas di sarana produksi milik PT. Bio Farma.
Vaksin ini diberi nama vaksin COVID-19 yang memiliki kandungan dan profil
khasiat serta keamanannya sama dengan vaksin CoronaVac yang diproduksi oleh
Sinovac.
IV. Profil Vaksin Astrazeneca
Vaksin Astrazenica adalah vaksin untuk
Covid-19 yang diproduksi oleh Astrazeneca yang berkolaborasi dengan University
of Oxford. Vaksin ini merupakan jenis vaksin vector adenoviral (rekombinan)
yang mengandung virus flu biasa yang telah dimodifikasi sehingga tidak dapat
bereplikasi atau berkembang didalam tubuh manusia tetapi dapat menimbulkan
respon kekebalan terhadap Covid-19. Vaksin Astrazenecea memiliki keefektifan
secara rata-rata 70%. Keunggulannya yaitu mudah untuk didistribusikan
dikarenakan tidak memerlukan penyimpanan pada temperature ruang yang sangat
dingin. Penggunaan vaksin Astrazeneca di Indonesia sendiri telah disetujui
oleh BPOM, yang mana badan POM telah menerbitkan persetujuan penggunaan pada
masa darurat atau EUA untuk Vaksin AstraZeneca pada tanggal 22 Februari 2021
dengan nomor EUA2158100143A1.
A. Status kehalalan
Vaksin Astrazeneca dinyatakan mubah melalui
Fatwa MUI No 14 Tahun 2021, dengan kata lain dibolehkan menggunakan vaksin
Astrazeneca untuk vaksinasi COVID-19. Ada beberapa pertimbangan yang mendasari
hal tersebut, pertama, penggunaan Vaksin Covid-19 produk Astrazeneca, pada
saat ini, dibolehkan karena ada kondisi kebutuhan yang mendesak yang menduduki
kondisi darurat. Selanjutnya ada keterangan dari ahli yang kompeten dan
terpercaya tentang adanya bahaya (resiko fatal) jika tidak segera dilakukan
vaksinasi Covid-19. Pertimbangan lain dibolehkannya penggunaan vaksin tersebut
karena ketersediaan vaksin COVID-19 yang halal dan suci tidak mencukupi untuk
pelaksanaan vaksinasi COVID-19 guna ikhtiar mewujudkan kekebalan kelompok
(herd immunity), dan pemerintah tidak memiliki keleluasaan memilih jenis
vaksin Covid-19 mengingat keterbatasan vaksin yang tersedia.
B. Cara kerja
vaksin Astrazeneca Dalam prosesnya, vaksin yang telah disuntikkan akan bekerja
dengan cara yaitu masuk ke dalam sel dan kemudian akan memulai produksi
protein spike atau protein S, sebagai rekayasa dari struktur coronavirus.
Dalam kaitannya dengan struktur coronavirus, protein S yang terletak di
permukaan virus tersebut, berperan dalam penetrasi sel inang dan memicu
terjadinya infeksi. Tubuh akan mendeteksi protein S tersebut, lalu memproduksi
antibodi dan mengaktifkan sel T guna menghancurkan sel-sel yang terkena
protein S. Antibodi yang telah mempelajari cara melawan rekayasa virus
tersebut, nantinya dapat menangkap coronavirus yang sebenarnya jika orang yang
telah divaksinasi terjangkit virus tersebut. Tubuhnya kemudian akan memicu
antibodi dan sel T guna membasminya.
C. Dosis dan efek samping
Vaksin Astrazeneca diberikan 2 kali yaitu
sebanyak O,5 ml setiap dosisnya secara intramuscular dengan interval 8-12
minggu dari dosis pertama.
Berdasarkan hasil uji klinik Covid-19 Vaccine
AstraZeneca di United Kingdom, Brazil, dan Afrika Selatan pada 23.745 subjek
manusia, efek samping vaksin Covid-19 Vaccine AstraZeneca sifatnya ringan
hingga sedang. Tidak ada efek samping serius yang dilaporkanterkait dengan
pemberian Covid-19 Vaccine AstraZeneca.
Efek samping yang umum dilaporkan adalah nyeri
di tempat injeksi,sakit kepala, kelelahan, mialgia, malaise, demam, menggigil,
artralgia, dan mual. Mayoritas efek samping ringan sampai sedang dan biasanya
sembuh dalam beberapa hari setelah vaksinasi. Efek samping ringan umumnya
lebih jarang terjadi pada orang dengan usia ≥65 tahun. Efek samping yang
paling sering dilaporkan pada subjek berusia 18 tahun ke atas (persentase
subjek) adalah nyeri tekan tempat suntikan (75,3%), nyeri tempat suntikan
(54,2%), kelelahan (62,3%), sakit kepala (57,5). %), mialgia (48,6%), malaise
(44,2%), pireksia (33,6%), menggigil (31,9%), artralgia (27,0%), dan mual
(21,9%). Selain itu efek samping demam (40,5 °C) juga dapat terjadi 2 hari
setelah dosis 1, dan kasus mielitis transversa terjadi 14 hari setelah dosis
2.
Untuk efek samping yang berbahaya atau
berpotensi serius dan ditemukan pasca vaksinasi di distribusikan yaitu
Trombosis, Trombositopenia, Thrombosis with Thrombocytopenia Syndrome (TTS),
Cerebral venous sinus thrombosis (CVST), Sindrom Kebocoran Kapiler (CLS) dan
Reaksi anafilaksis.
D. Efek samping yang berbahaya
1. Muncul di negara mana aja
Dilansir dari halaman BBC Indonesia Cerebral
venous sinus thrombosis atau pembekuan darah pada otak telah terdeteksi pada
sejumlah orang yang menerima suntikan vaksin OxfordAstraZeneca. Menurut
Institut Paul Ehrlich di jerman telah melaporkan terdapat 31 kasus CVST dan 9
kematian dari 2,7 juta orang yang menerima vaksinasi. Selain itu data di
inggris menyebutkan bahwa kasus pembekuan darah mencapai lima kasus dari 11
juta orang yang divaksinasi
2. Presentase kemunculan
Setelah vaksinasi, penerima mungkin mengalami
beberapa efek samping ringan. Jika dibandingkan dengan dosis pertama, efek
samping yang dilaporkan setelah dosis kedua umumnya lebih ringan dan
dilaporkan lebih jarang. Sedangkan pada efek samping yang berbahaya seperti
Trombosis, Trombositopenia, Thrombosis with Thrombocytopenia Syndrome (TTS)
sangat jarang terjadi. Trombositopenia umumnya terjadi pada individu berusia
18-59 tahun. Untuk Cerebral venous sinus thrombosis (CVST) sebagian besar
terjadi dalam 3 minggu pertama setelah vaksinasi. Beberapa kasus CVST memiliki
hasil yang fatal. Sindrom Kebocoran Kapiler (CLS) sangat jarang terjadi.
E. Cara penaganan efek samping
1. Efek samping ringan
Efek samping dari vaksinisasi bersifat segera
dan sementara, dan pada umumnya ringan, dapat hilang dengan sendirinya atau
diatasi dengan parasetamol. Untuk antisipasi di tiap sesi vaksinisasi akan
dipantau selama 30 menit sebelum bisa meninggalkan lokasi vaksinisasi. Selain
itu, ada pencatatan barcode per vial untuk setiap penerima vaksin, sehingga
penelusuran risiko dapat dilakukan.
2. Efek samping anfilaksis
Untuk penanganan efek samping berbahaya
seperti anfilaksis yaitu dengan mengecek apakah kandungan vaksin ini ada yang
dapat menimbulkan alergi di orang tertentu, kemudian apabila setelah pemberian
vaksin dosis pertama terjadi reaksi anfilaksis maka vaksin dosis kedua tidak
boleh diberikan. Perawatan dan pengawasan medis yang tepat harus selalu
tersedia jika terjadi peristiwa anafilaksis setelah pemberian vaksin. . Gejala
reaksi alergi atau anfilaksis meliputi: gatalgatal, pusing, pembengkakan pada
wajah, bibir, lidah atau tenggorokan, kesulitan bernapas, sesak napas, atau
mengi.
3. Efek samping Thrombosis with Thrombocytopenia Syndrome (TTS)
Pada efek samping seperti Thrombosis with
Thrombocytopenia Syndrome (TTS) dapat di tangaini dengan menyadari gejalanya,
apabila gejala terjadi harus segera mendapat penanganan medis. Gejalanya yaitu
sesak napas, nyeri dada, pembengkakan atau nyeri kaki, atau nyeri perut
terus-menerus setelah vaksinasi. Selain itu, siapa pun dengan gejala
neurologis setelah vaksinasi termasuk sakit kepala parah yang tiba-tiba, sakit
kepala yang terus-menerus atau memburuk, penglihatan kabur, kebingungan atau
kejang, atau yang mengalami memar kulit yang tidak biasa atau petechiae di
luar tempat vaksinasi setelah beberapa hari. Pada orang yang memiliki riwayat
trombosis sebelumnya, serta pada pasien dengan gangguan autoimun, termasuk
trombositopenia imun lebih berpotensi untuk timbul efek samping Thrombosis
with Thrombocytopenia Syndrome (TTS). Pemberian vaksin pada kasus ini harus
dipertimbangkan Manfaat dan risikonya.
4. Efek samping Cerebral venous sinus thrombosis (CVST)
Orang yang pernah mengalami CVST sebelumnya
dengan trombositopenia atau trombositopenia yang diinduksi heparin (HIT) hanya
boleh menerima Vaksin AstraZeneca jika potensi manfaatnya lebih besar daripada
potensi risikonya. Pasien yang pernah mengalami trombosis vena atau arteri
mayor dengan trombositopenia setelah vaksinasi dengan AstraZeneca tidak boleh
menerima dosis kedua AstraZeneca.
5. Efek samping Sindrom Kebocoran Kapiler (CLS)
Sindrom Kebocoran Kapiler (CLS) adalah kondisi
serius yang berpotensi fatal yang menyebabkan kebocoran cairan dari pembuluh
darah kecil (kapiler) yang mengakibatkan pembengkakan cepat pada lengan dan
kaki, penambahan berat badan secara tiba-tiba dan perasaan pingsan (tekanan
darah rendah). Cari bantuan medis segera jika Anda mengalami gejala-gejala ini
pada hari-hari setelah vaksinasi. Individu dengan riwayat CLS yang diketahui
tidak boleh divaksinasi dengan vaksin ini.
F. Dengan efek samping yang berbahaya/ serius apakah vaksin AstraZeneca
masih bisa digunakan ?
Dengan mengacu pada pernyataan EMA (European
Medicines Agency/ Badan pengawas obat Eropa) bahwa manfaat vaksin AstraZeneca
masih lebih besar daripada risikonya. Karena efek samping yang berpotensi
serius tersebut sangat jarang terjadi. Jadi, vaksin AstraZeneca masih bisa
digunakan.
G. Dengan adanya virus covid 19 varian delta, apakah vaksin Asterazeneca
masih bisa digunakan?
Efikasi rata-rata dari vaksin astrazeneca
adalah 70 %. Sedangkan BPOM mengumumkan efikasi AstraZeneca adalah 62,1%. Pada
mutasi B.1.617.2 atau Covid-19 varian delta efektifitas vaksin AstraZeneca
menurun menjadi 59,8%, pada mutasi lain seperti varian Alfa (B.1.1.7)
efikasinya yaitu 70% dan pada varian Beta (B.1.351) efikasinya yaitu 10 %.
Selain itu vaksin ini 92% efektif dalam mencegah rawat inap apabila terjadi
infeksi virus Covid-19 varian delta. Sehingga dapat dipastikan vaksin ini
masih direkomendasikan untuk digunakan pada kasus corona virus varian
delta.
V. Kesimpulan dan Opini
• Kesimpulan
Vaksin AstraZeneca adalah vaksin produksi
Oxford dengan efikasi menurut BPOM yaitu 62,1%. AstraZeneca memiliki efek
samping yang umum yaitu nyeri di tempat injeksi,sakit kepala, kelelahan,
mialgia, malaise, demam, menggigil, artralgia, dan mual. Disamping itu vaksin
ini berpotensi menimbulkan efek samping yang serius seperti, Thrombosis with
Thrombocytopenia Syndrome (TTS), Cerebral venous sinus thrombosis (CVST),
Sindrom Kebocoran Kapiler (CLS), dan reksi anfilaksis. Namun kejadian efek
samping ini sangat jarang terjadi, sehingga disarankan untuk tetap digunakan
kecuali pada orang-orang yang memiliki riwayat penyakit tertentu seperti
riwayat CVST, CLS, trombosis, autoimun, dan alergi. Pada kasus outbreak dengan
virus Covid-17 varian delta (B.1.617.2), vaksin AstraZeneca diketahui masih
efektif dengan persen efikasi yaitu sebesar 59,8%, sehingga vaksin ini masih
direkomendasikan untuk mengatasi penularan virus covid-19 varian delta.
• Opini
Dari data dan informasi yang di dapatkan,
menurut kami vaksin AstraZeneca masih sangat layak untuk digunakan karena
efikasinya terhadap virus covid-19 varian delta diatas standar WHO (>50%)
dan efek samping berbahaya yang ditimbulkan oleh vaksin ini sangat jarang
terjadi.
DAFTAR PUSTAKA
Aditama, T. Y. Covid - 19 Dalam Tulisan. Jakarta : Kemenkes RI
AstraZeneca COVID-19 Vaccine Product Monograph. COPYRIGHT 2021, ASTRAZENECA
CANADA INC
EUA- COVID-19 Vaccine AstraZeneca, Health Care Provider Fact Sheet, Approved
version date 22/02/2021, BPOM, ID EREG10040912100039
Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomer 14 Tahun 2021 Tentang Hukum Penggunaan
Vaksin Covid-19 Produk AstraZeneca.
Gurning, F. P. dkk. 2021. KEBIJAKAN PELAKSANAAN VAKSINASI COVID-19 DI KOTA
MEDAN TAHUN 2020. Jurnal Kesehatan, Vol. 10 No. 1
https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/
https://www.pom.go.id/new/view/more/berita/21441/Vaksin-AstraZeneca-Resmi-Mendapatkan-EUA-dariBadan-POM.html
https://www.kemkes.go.id/article/view/21032000002/fatwa-mui-bolehkan-vaksinasi-astrazeneca-jubircovid-19-dr-nadia-tekankan-masyarakat-jangan-ragu-vak.html
https://www.bbc.com/news/health-55302595
https://www.bbc.com/indonesia/
BPOM. 2020. Informasi Produk Untuk Peserta Vaksinasi Menggunakan Covid-19
Vaccine Astrazeneca Untuk Pencegahan Covid-19 Pada Dewasa Usia 18 Tahun
Keatas.
Kementrian kesehatan RI. 2021. Frequently Asked Question Seputar Pelaksanaan
Vaksinasi COVID-19.
Nirmala, F. F., & Harlina, T. (2017). Pandangan anggota ormas islam di
wilayah Maluku terhadap imunisasi/vaksinasi meningitis serta kajiannya secara
biologi. Jurnal Biology Science & Education, 6(1), 69–83.
Rahayu, R. N. & Sensusiyati. 2021. VAKSIN COVID 19 DI INDONESIA : ANALISIS
BERITA HOAX. INTELEKTIVA : JURNAL EKONOMI, SOSIAL & HUMANIOR. Vol. 02, No.
07
Stergaard, et al. 2021. Tromboemboli dan vaksin Oxford-AstraZeneca COVID-19:
efek samping atau kebetulan?. The Lancet Vol 397, ISSUE 10283, P1441-1443 doi:
10.1016/S0140-6736(21)00762-5
Raman, R. et all. 2021. COVID-19: Unmasking Emerging SARS-CoV-2 Variants,
Vaccines and Therapeutic Strategies. Biomolecules 2021, 11, 993.
https://doi.org/10.3390/biom11070993